3 Kisah Tragis Ekspedisi Penakluk Kutub Selatan

"Ekspedisi ini bagaikan perlombaan. Siapa cepat, maka dia yang akan tercatat dalam sejarah dunia."


South Pole atau kutub Selatan (geografis) ialah ujung selatan bumi dengan titik koordinat (90° S), dan juga merupakan sumbu bumi dengan kawasan ditengah dataran gurun es seluas Cina dan India jika digabungkan, yang dimiliki secara internasional, atau tidak boleh dimiliki oleh negara manapun. 

South Pole berada di benua Antartika yang notabene adalah daratan dan perjalanan bisa dilakukan dengan menggunakan kaki. Kutub Selatan merupakan wilayah di dunia yang belum terjamah oleh manusia seutuhnya, karena kutub selatan tak semuanya tersinari oleh matahari, makhluk hidup yang banyak tinggal di sini adalah pinguin.

Ekspedisi ini bagaikan perlombaan. Siapa cepat, maka dia yang akan tercatat dalam sejarah dunia. Ke benua antartika sudah biasa, tapi menaklukkan Titik Kutub Selatan adalah tantangan para penjelajah pada masa lalu, namun tak begitu banyak ekspedisi yang mampu mencapai titik 90° S.

Perlombaan untuk mencapai titik kutub selatan yang paling terkenal yaitu antara Roald Amundsen dengan kapal ‘Fram’ dan Robert Falcon Scott dengan kapal Terra Nova. Sebagai penghargaan untuk jasa mereka berdua, stasiun atau pangkalan di kutub selatan diberi nama Stasiun Kutub Selatan Amundsen-Scott. Namun, di balik suksesnya ekspedisi terselip kisah tragis yg menimpa para penakluk kutub selatan tersebut. Berikut inilah kisahnya :


1. Roald Amundsen 14 Des. 1911



Ekspedisi pertama yang berhasil mencapai titik geografis Kutub Selatan dipimpin oleh penjelajah Norwegia, Roald Amundsen. Dia dan empat orang lainnya tiba di titik kutub selatan, yang berada di tengah-tengah benua Antartika pada tanggal 14 Desember 1911.


Roald Amundsen yang bernama lengkap Roald Engelbregt Gravning Amundsen, lahir di Fredrikstad, Norwegia, pada tahun 1872, dia adalah anak pemilik kapal. Pada tahun 1893, dia meninggalkan studinya di Christiania University dan memutuskan hidup sebagai pelaut untuk berlayar ke Kutub utara.


Yang kemudian mengubah haluan untuk menaklukkan kutub selatan setelah Persiapan untuk ekspedisi ini kemudian terganggu ketika pada tahun 1909, penjelajah Amerika, Frederick Cook dan Robert E. Peary masing-masing mengklaim telah mencapai Kutub Utara terlebih dahulu.

Amundsen memulai ekspedisinya pada tahun 1910 dan berhasil mencapai Kutub selatsn pada 14 Desember 1911 dengan menggunakan rute dari Teluk Whales ke dataran tinggi kutub melalui Gletser Axel Heiberg. Amundsen memutuskan menjalani hidup untuk menjelajahi dunia. 

Namun Ia menghilang pada bulan Juni 1928 ketika berpartisipasi dalam sebuah misi penyelamatan di Laut Barents. Hilngga kini, apa yang menimpa sang penakluk kutub selatan tersebut belum diketahui.

2. Scott 17 Jan. 1912

Petualangan Kapten Scott (Inggris) dalam Pencarian Kutub Selatan (Antartika) berujung pada Kematian Kapten Scott dan Empat Anak Buahnya. Kapten Robert Falcon Scott (6 Juni 1868 – 29 Maret 1912) adalah seorang perwira dan penjelajah Angkatan Laut Britania Raya yang memimpin dua ekspedisi ke Antartika: Ekspedisi Discovery tahun 1901–1904 dan Ekspedisi Terra Nova tahun 1910–1912 yang berakhir tragis. Dalam ekspedisi pertama, ia berhasil membuat rekor baru dengan mencapai garis lintang 82°S dan menemukan Dataran Kutub yang merupakan lokasi Kutub Selatan. 

Dalam ekspedisi kedua, Scott memimpin tim yang beranggotakan lima orang dan berhasil mencapai Kutub Selatan pada 17 Januari 1912, tetapi  mereka telah didahului oleh ekspedisi Roald Amundsen dari Norwegia.

Saat perjalanan kembali dari Kutub Selatan, tim Scott berhasil menemukan fosil tumbuhan yang membuktikan bahwa dulu Antartika memiliki hutan dan pernah terhubung dengan benua lainnya.
Namun dikabarkan pada tanggal 29 Maret 1912, Scott dan timnya telah meninggal dalam perjalanan pulang mereka dari titik kutub selatan. Dari posisi jenazah pada tim Scott, menurut penelitian, jenazah-jenazah mereka ditemukan pada tiga titik penemuan jenazah.


Evans meninggal lebih dulu karena paling dekat dengan titik kutub selatan, yaitu pada 17 Februari 1912, jenazahnya sendirian dan berada di daratan yang bersalju. Kemudian pada titik kedua, ditemukan jenazah Oates yang juga sendirian, ia meninggal pada 17 Maret 1912 dan jenazahnya berada di lapisan laut ber-es Ross Ice Shelf. Titik ketiga ditemukan 3 jenazah, yaitu Scott, Wilson dan Bowes yang meninggal pada 30 Maret 1912 dan jenazah mereka juga berada di lapisan laut ber-es Ross Ice Shelf, namun lebih ke utara.

Tim Scott adalah yang terakhir melihat tenda tim Amundsen yang mereka temukan pada tanggal 18 Januari 1912. Henry Robertson Bowers sempat mengambil foto tenda, namun ia meninggal ketika dalam perjalanan kembali dari titik Kutub Selatan.

Setelah berita mengenai kematiannya menyebar, Scott dianggap sebagai pahlawan, dan banyak memorial yang dibuat untuknya di Britania Raya.

3. Ernest Shackleton



Sir Ernest Henry Shackleton (15 Februari 1874 – 5 Januari 1922) adalah seorang penjelajah yang terkenal berkat ekspedisi Antartika 1914–1916 yang menggunakan kapal Endurance. Pada 16 Januari 1909, ekspedisi pimpinannya menemukan Kutub Selatan Magnetis.

Pada tahun 1914 Ekspedisi Imperial Trans-Antartika menggunakan kapal Endurance dimpimpin oleh Ernest Shackleton, dan menjadi kelompok pertama yang melintasi Georgia Selatan. Anggota lain yang ikut dalam Ekspedisi Imperial Trans-Antartika adalah Kelompok Laut Ross, yang dipimpin oleh Aeneas Mackintosh. Tujuannya adalah membangun tempat suplai persediaan di Es Penghalang Besar untuk kelompok Shackleton yang melintas dari Laut Weddell . Meskipun tempat bahan suplai telah jadi namun Mackintosh dan kelompoknya meninggal.


Ekspedisi terakhir Shackleton adalah Ekspedisi Shackleton-Rowett yang berlangsung selama 1921-1922 dengan menggunakan kapal Quest. Meski ekspedisi ini tidak memiliki tujuan pasti tapi menghasilkan pemetaan pantai, pelayaran mengelilingi benua, penyelidikan pulau sub-Antartika, dan penelitian oseanografi. Penjelahan ini berakhir sebelum kematian Shackleton pada tanggal 5 Januari 1922. Shackleton meninggal karena serangan jantung di Georgia Selatan dan dikuburkan di pulau itu.

Sebelum kepergiannya, Sir Ernest Shackleton dalam bukunya South menjelaskan keyakinannya bahwa sesosok makhluk tak berwujud menemani dirinya dan dua rekannya pada hari-hari terakhir petualangan mereka. Shackleton menulis, "selama 36 jam yang panjang dan melelahkan di pegunungan dan gletser tak bertanda di Georgia Selatan, saya sering merasa gerombolan kami justru terdiri dari empat orang, bukan tiga."

Recent Post

Recent Posts Widget